* * * Selamat datang... Anda memasuki kawasan bebas komunikasi. Silahkan bergabung bareng aku di sini * * *

02 Februari 2009

ABG

Aku kuliah di suatu perguruan tinggi swasta di Malang, yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning (panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.

Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita, tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai berkata, “Mas.. kalau di rumah ngapain aja?” tanyanya sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab, “Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi,” kataku sambil aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, “Mas kok gelisah sekali sih?” Aku menjawab sambil menahan, “Si Dul berganti posisi duduk.”

Tanpa kusadari Naning melihat ke arah “Dul” punyaku, langsung berkata, “Ehh.. itu Mas kok keliatan?” Aku malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.

Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia berkata, “Cepet Mas.. aku udah gak tahan!” dengan nafas terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si “Dul” punyaku yang besar sekali, sambil berkata, “Wahh.. Mas.. kok besar sekali?” Aku menjawab, “Akh masa sich?” sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.

Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. aku keluarr..” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah.

Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah “Dul”-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. kok besar sekali?” seperti orang terkejut. Aku tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan “Dul”-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat. Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh.. terus Mass..” begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut dengan.. “Aku pingin yang lama Mass..” permintaannya harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang kesempatan seperti ini.

Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa “Dul”-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. jangann.. di.. lepass.. yang kuatt.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” dan dia mengecupkan bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si “Dul” keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.

Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. keluar Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di atasku dan kulihat “Dul”-ku masih berdiri tegak menanti adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan, Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih “Dul”-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.

Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enaknyaa Mas..” sambil kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan berucap,
“Ssst.. aahk.. Mas.. bareng yaa.. aku juga akan keluar.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..””Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..””Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, si “Dul” memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya.

Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. “Wah.. Mas.. kamu hebat sekali yaa.. seperti berpengalaman saja.” Aku hanya menjawab, “Enggak ah..” dan hari-hari selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja, kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di rumahnya.

Winda Sepupu yang Kusayangi

“ini Winda kan, wealah sekarang dah gede ya?, cantik lagi” kata ibu ku saat seorang gadis cantik nan seksi datang menyuguhkan minuman dan makanan kecil diatas meja tamu. Aku ikut terpana menyaksikan pemandangan indah ini, meski sejak kecil aku sering bersama dan kemudian aku terpisah dengannya karena kau harus kuliah diluar kota dan ia tetap menetap dan sekolah dikotanya. Winda nama gadis cantik itu adalah anak angkat Bude dan Pakde, Winda diasuh Bude dan Pakde sejak ia masih kecil semula ia anak pembantunya, sebagai rasa terima kasih Pakde dan Bude pada pembantunya yang kini sudah tua dan sakit-sakitan, maka ia mengadopsi Winda.
Tak kusangaka kini winda benar-benar berubah menjelma menjadi gadis yang sempurna dengan lekuk tubuh yang membuat jantung pria berdegup. “eh Bulik terlalu memuji deh”katanya sambil tersipu malu,” win, kamu in ngak dulu kamu sering main dengan cawok ganteng ini?” seru bulik seraya mengelus rambuku, “ya ingatlah bu, Mas anton khan” jawabnya segera sambil tersenyum padaku, uih senyum winda benar-benar manis beda sekali waktu aku bersamanya dulu sering cemberut dan cenggeng, “sekarang winda ngak cemberutan lagi kan?” candaku, “ya ngaklah Mas, sekarang kan winda dah gede kalau cemberutan mulu ntar ngk cantik lagi dong” serunya manja dan disambut tawa renyah ayah ibuku dan pakde bude. Setelah berbasa-basi akhirnya winda minta ijin kebelakang karena masih ada pekerjaan. Akupun ikut menyusulnya dengan berbagai alasan agar terlihat alami.
Didapur winda sedang berdiri sambil mencuci piring dan gelas, “hai win, lama tak jumpa kamu benar-benar banyak berubah” kataku seraya melangkah mendekatinya, aku berdiri tepat dibelakangnya kupeluk pinggangnya yang ramping dengan aroma tubuhnya yang harum membuatku semakin mempererat pelukanku, windapun diam aja seolah ia juga menikmatinya. “kayaknya mas deh yang berubah, pergi gitu aja terus kini datang tiba-tiba meluk winda”katanya lirih seperti akan menangis, “win jangan nangis dong, Mas kangen sama kamu makanya ngk tau kenapa mas pengen meluk kamu dan ngk nglepasin lagi” kataku lembut, “ada suara terisak dari bibirnya yang mungil, “emangnya Mas aja yang kangen winda juga mas, sejak mas pergi kuliah aku selalu mengharapkan kehadiran mas, tapi ngak pernah muncul-muncul”, “win maafin mas ya”kataku mempererat pelukanku dan ia pun membelai-belai tanganku yang ada diperutnya dengan tangannya yang lembut. Aku tak tahu ternyata kebersamaanku dengan winda sejak aku kecil sampai kami SMU, dan akhirnya aku harus kuliah diluar kota, benar-benar membekas dihatinya, untuk sesaat kami terdiam winda menyandarkan kepalanya didadaku, kubelai rambutnya yang panjang hitam dan harum, kemudian kuusap lengannya yang tak tertutup kain karena winda mengenakan baju tanpa lengan hanya pundaknya saja yang tertutup kain, kulitnya benar-benar halus, lembut dengan ditumbuhi bulu halus. “mas ditempat mas kuliah cewexnya cantik ya, pasti mas dah punya pacar” katanya kemudian, dari kata-katanya ada nada kecemburuan, kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya berlahan, “ya, tapi ngak ada yang secantik dan semanis windaku sayang dan lagi aku sudah putus sama pacarku” rayuku,” ouuuuh…mas boong ach…ngombal tau”timpalnya manja, melihat ia tak sedih lagi membuat jadi tenang. Kami pun masih berpelukan, yach aku masih memeluknya dari belakang winda pun tak keberatan, “ sayang, aku bantu nyucinya Ya” kataku riang, “ach ngak usah mas, biar winda Aja” jawabnya tak kalh riang, “terus mas ngapain dong, mas kan ngak tega dari tadi pasti kamu sibuk kesana-kemati apalagi nanti katanya ada acara syukuran pernikahan pakde dan bude”, kataku sedikit merajuk, “ehmmm…mas nemenin winda nyuci aja ya, kan mas kangen sama winda, ehmm mas melukin winda aja dech, ciumi winda juga ngak papa?, katanya dengan manja semagat kelelakianku pun tergugah, “yang bener win” jawabku bersemangat, “ ya iyalah mas, yach itung-itung buat ngilangin kangen aku sama mas, kalau mas meluk atau cium aku aku jadi tenang karena Masku yang kusayang disini, dan sekarang sedang nyayang aku” cerocohnya dari mulutnya yang indah, dengan deg-degan ku cium lehernya yang halus dan jenjang dengan penuh kasih sayang, dan dengan sedikit rintihan kecil ia menegadah seolah-olah memamerkan lehernya indah, “ouuuuuh…mas…winda…sayang banget sama ma”rintihnya berlahan, aku terus memeluk dan menciuminya dengan perasaan sayang dan tentu saja nafsu, tak jarang sesekali tanganku ikut meraba dadanya montok tapi kucoba menahannya untu tak meremasnya, winda mencengkram tanganku dan sekali lagi merintih, kali ini rintihan winda, tiba-tiba penis menegang aku kaget aku tak mau winda tau kalau aku terangsang tapi ia terus membuatku tak ingin lepas darinya, “mas sepertinya ada yang nganjel dech” katanya lembut samabil menaikan tangannya dan merangkul leherku “apa…apa…win?” kataku ngelagapan, penisku masih saja tegak saja, ditambah aroma harum farfumnya bercampur dengan aroma tubuh dari ketiak winda yang kini terbuka membuat penisku tak mau lagi berkompromi, terus tegak memebesar, berlahan tanganku secara refleks mengelus ketiaknya, agak sedikit kasar tapi disekitarnya halus, rupanya ia baru mencukur ketiaknay, “win ketiak kamu kok ngak diwax aja, dari pada tiap hari cukuran terus” kataku mengalihkan perhatian sipenis agar meredup, ia kaget dan buru-buru menjawab “ngak mas, winda pengen yang alami-alami aja”, “soalnya temen winda yang diwak kulit ketiaknya jadi iritasi dan item”,katanya, “ yach soalnya kan salonnya ngak bonafit”, kataku memebalas, “mang kenapa sich mas, aku ngak keberatan kok nyukur ketiakku tiap hari, kan mas sendiri yang bilang kalau aku tampak seksi dengan ketiak yang habis dicukur”katanya manja sambil mengeliat penis yang tertekan kembali mulai mengeras, “emang mas pernah bilang gitu Yach” kataku heran, “mas lupa atau sengaja melupkannya waktu itu mas, mau pergi dan mas minta ijin sama aku waktu itu masih pagi, mas lansung masuk kekamarku dan aku masih pakai gaun tidur dan mas ngeliat ketiak aku yang lebat, terus mas nyuruh aku buat mencukurnya kata mas masak cewex ketiaknya lebat banget akan lebih seksi lagi bila ketiak cewek itu bersih tapi masih ada sisa-sisa cukurannya”katanya panajang lebar, aku kaget dan teringat kejadian itu, waktu itu winda sudah kelas 2 sma dan harus pergi kuliah, : “dan waktu itu pula mas juga menciumi aku dari ujung rambut smapai kaki, waktu itu winda bahagia banget bisa ngerasain perasaan nikmat dan bahagia bercampur menjadi satu”katanya lagi dengan nafas memburu, deg atiku berdebar-debar aku tak tahu winda masih ingat kejadian itu, penisku semakin keras dan tegak saja, “mas kalau mas masih kangen dan menginginkan winda nanti malam aja mas kekamar winda, akan winda berikan semua yang mas mau dari winda, kalau sekarang masih rame dan banyak pekerjaan yang harus winda seleasaikan”katanya lagi, “maksudmu apa sayang“ kataku keheranan mengapa winda jadi agresif seperti ini, “Mas ngak usah pura-pura dech, aku tau kok yang nganjel di pantat winda itu, mas winda sayang sama mas dan mas sayang sama winda, katanya dengan rintihan manja, mendengar itu tanganku yang semula hanya mengelus-mengelus dadanya kini tanganku mulai meremas dadanya yang kenyal dan padat. Winda pun mulai menikmati suasana dan mulai terangsang “sayang Mas ngak tahan nich, dah sebulan nich mas ngk gituan”kataku lirih, “masa sih mas, emang pacar mas ngak pernah ngasih ya”katanya lembut, kugelengkan kepalaku “kan aku sudah putus” kataku segera, “terus teman-teman cewex mas, mas kan ganteng”katanya lagi, “ach kamu, win sekarang aja ya” lirihku. “yah udah, tapi bentar aja ya”katanya, winda membalikan tubuhnya aku dan winda pun kini salijng berhadapan, kulumat bibirny winda pun membalas tak kalah panasnya, tak kusangaka winda pandai bermain bibir setahuku ia anak rumahan yang baik, mungkin saja ia sudah punya pacar dan sering berciuman, ah aku tak peduli, aku terus menikmati bibir winda, tangankupun tak mau ketinggalan meremas-remas buah dadanya yang masih terbungkus baju dan branya, kemudian winda melepaskan bibirnya dari bibirku dan ia berlutut dan dengan kedua tangannya membuka celana jeans dan celana dalamku dan akhirnya penis yang besar dan panajang, yang sudah tegak sedari tadi menjelepat mengacung didepan hidungnya untuk sesaat winda hanya meliat-liat penisku dengan kagum, “mas penis mas gede banget, panjang lagi winda suka”katanya dengan nada bahagia, kemudian ia mulia mencium ujung penisku, meremasnya perlahan dan mulai menggulumnya dari ujung terus kepangkalnya dengan gerakan berlahan, “ouuuuuuuh…ouchhhh…win…nikmat..”rintihk u, winda terus menggulum penisku seperti ia mengulum es bon-bon ada pancaran perasaan bahagia dar matanya yang besar saat mata kami saling bertemu, mengeluar masukan penisku didalam mulutnya gesekan penisku dan rongga mulut winda semakin terasa rupanya ia mempercepat gerakan mengeluar masukan penisku dan terus mempercepatnya saat aku mulai merintih keenakan, kutahan kulumannya dengan memegang kepalanya, saat kurasakan aku mulai mau keluar dengan masih berlutut ia memandangku dengan wajah kecewa dan merajuk, “kenapa mas kuluman winda ngak enak Ya” katanya merengek sambil memegang penisku berharap aku mengujinkannya megulum penisku lagi, “ngak sayang, enak banget malah kamu pintar, belajar darimana?” tanyaku sesaat ia diam “dari filem bokep” katanya kemudian, “win gantian ya, pakai memek kamu” kataku berharap “tapi mas,”katanya kemudian “bentar aja win, lagian penis mas juga udah mau keluar, mas hanya ingin ngeluarin sperma mas kedalam memek kamu”kataku, “mas, bukannya winda ngak mau tapi winda lagi subur dan mas ngk bawa kondom kan”,katanya lirih, “tapi win, mas cuma mau bagian tubuh mas ada ditubuh kamu sebagai tanda bahwa apapun yang terjadi mas tetap sayang winda” kata menjelaskan, ia pun mengangguk karena situasi darurat dan isi penis tak mau menunggu unntu segera dikeluarkan, ia membalikana tubuhnya membuka roknya keatas dan nungging tepat dihadapan penisku yang sedang mengacung, segera kuturunkan celana G-stringnya dan berlahan kumasukan penisku agak sulit sih karena tercepit oleh pantat, kubuka pantat dan kuarahkan penisku kevaginanya kudorong dan AHHHHHHHH….penisku masuk dengan mulus kedalm liang knikmatan winda, ruapanya winda suadh tak perawan karena penisku masuk begitu mudah, ah ntar aja kutanyakan, kugoyang penisku maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya, winda yang berpegangan pada pinggiran wastafel mulai merintih “achh..uchhh…och..ouchh…mas…penis… mas… enak ..banget.. mas.. terus” rintih winda setelah tau nikmatnya goynagan penisku, dengan gaya dogy style ia terus kugenjot “….mas…anton….winda…ngk…tahan…winda..k eluar…auooooooch rintih winda sambil menutup mulutnya meredam jeritan kenikmatannya mengginggat kalau ia sedang dientot di dapur, lian vagina winda semakin becek saja kucabut penisku dan winda berdiri dan berbalik “mas…mas…belum keluar..juga”katanya lirih kukecup keningnya basah oleh keringat “iya…nich mas juga ngk tahu biasa lansung keluar kalau habis dioral, mungkin karena mas melakukannya dengan sayang” kataku winda bengong “kok bisa” katanya sambil mengurut penisku yang basah oleh cairan vaginanya, “yach karena mas ingin kamu merasakan kenikmatan yang lebih” kataku lirih “winda juga mas, kenikmatan winda adalah knikmatan mas juga”lirihny, kemudian winda duduk di pinggiran washtafel dan membuka pahanya lebar-lebar, vaginanya yang basah menggangga dengan lebar, segera kumasukan penisku kedalam vaginanya, kembali dengan posisi aku berdiri dan ia duduk mekangkang kugenjot vaginanya dengan cepat jeritan dan rintihan nikmat tak terelakan lagi salin saut menyaut winda menggigit kedua bibirnya meredam teriakan nikamtnya sementara kedua tangannya mencengkram pantatku, terus kugenjot ia sampai ia benar mersakan kenikmatan total,”massssssssssssssssssss………..achhhhhhh. ….uchhhhhhhh…..ach….achhhhh….rancaunya tak karuan tak lama kemudian ia menjerit lagi dengan keras, saking nikmatnya orgasme, winda lupa meredam suaranya, sehingga suara jeritannya yang keras terdegar keras, “ach…ach…ach….acs…..uch….ooooooooouch… .mas aku keluarrrr…mas..ah” teriak winda begitu keras saat ia sampai pada orgasmenya yang kedua, mudah-mudahan suara jeritan winda tak samapi kerauang tamu, kalau sampai terdengar gawat, aku harus segera menyemprotkan spermaku, tapi spermaku tak kunjung keluar-keluar, dengan sisa tenaga ku genjot vaginanya lebih keras dan cepat, “mas…terus…mas..ayo…keluarin..semuanya…did alam memek winda”,serunya menyemangatiku, tiba-tiba terdengar suara bude, “win kamu ngak papa sayang” seru bude dari balik pintu dapur, untung aja pintunya kututup tadi, dan aku tak tahu apa yang akan terjadi aku siap menerima resiko, bila bude memergoki kami, untuk sementara goyanganku mengendur memberi kesempatan winda untuk menjawab hanya goyangn-goyangan kecil agar penisku tetap tegak, “ngk apa-apa kok ma, winda sama mas anton kok ia bantu winda cuci piring dan ada yang pecah” jawabnya agak terengah, setelah keadaan sepi kupercepat goyangan penisku dengan hati berdebar-debar takut bude datang lagi, kugenjot vagina winda dan akhirnya “achhhhhhhhhhhh……….”teriaku dengan rasa yang luar biasa nikmat kusemprotkan spermaku kedalam vaginanya, “ach…mas…spermanya banyak banget, panas lagi” lirihnya sambil menutup mulutku meredam teriakan nikmatku, “sayang maaf spermanya mas keluarin didalam padahal kamu lagi subur” kata dengan terengah-engah, “ngak papa mas, aku seneng kok kini bagian dari mas ada dalam tubuhku,”jawabnya lirih, “kamu tenang aja mas akan bertanggung jawab”kataku ia pun memelukku denagn erat menimati sisa kenikamtan yang ada, setelah membersihkan diri dan berpakaian aku pun ikut sibuk memepersiapkan acara syukuran itu ,winda pun tamapak bahagia dengan tawa dan canda seoalah lepas dari beban.

Pengalaman di Bali

Halo, na gw alit tuh samarannya. Pengalaman ini terjadi 4 bulan yang lalu di kuta - Bali. Saat itu udah Malam, kesel karena janjian ama temen DS dr jakarta ngak ketemu, gw jalan2 di pantai. Ngak nyangka gw ketemu ama seorang cewe.

Namanya rini. kenalan deh; ternyata dia dari jakarta kerja di bali. gw tanya kok sendirian; dia bilang lagi bosan. kita ngobrol2 kesana kemari n bang… kita punya kesamaan suka sex chat… dalam hati setan mulai berkuasa.

gw trus tawarin jalan n makan malam di sekitar kuta tempatnya asik. ngak nyangka Rini dengan balutan gaun berwarna coklat transparan bermotif batik itu bener bener buat gw konak.

waktu makan kita ngobrol2 n gw beraksi…
“Rin, loe mau es krim” gw tanya.Trus gw pesan satu n kita makan bareng.
dia bilang “ok” sambil raba paha gw (ampun deh nih cewe). es krim datang langsung di santap n gw minta billnya. sambil nikmatin esnya gw juga nikmatin pemandangan indah dihadapan gw. wajah cantik, mulus, putih, tinggi, rambut hitam lurus n payudara yang sempurna. mungkin segenggaman gw.

“rin, loe cantik deh” gw
“basi” kata rini
“eh esnya blepotan tuh di bibir” gw ambil tisu mau nyeka, dia senyum aja trus waktu udah deket banget…”cup” gw cium lembut di sisi bibir nya yang kecil.
“nah skrg udah bersih” kata gw. Rini ngak marah cuman senyum, merona kemerahan n nunduk. dalam hati gw ni dia saatnya.
“rin, kita jalan yuk” kata gw; dia mau aja. trus kita berdua ke parkiran. naik ke mobil dia gw rangkul udah kayak pacaran aja. gw bukain pintu n ngak lupa sebelum nutup pintu gw cium lagi. keluar dari parkiran ke jalan sialan MACET total. dalam hati; sit udah konak lagi.

“yah kok macet sih … duuh” kata rini.
“sabarya ntar juga sampe” kata gw.
“sampai ke puncak ya… lit” kata rini.
“maksud loe…”kata gw.
“tuh adikmu udah nganceng gitu” kata rini. sialan ternyata si rini diam diam merhatiin juga. Macet lagi… di dalam mobil lagi. aduh..
” Rin gw…” mendekati dia trus gw cium bibirnya. lembut banget lebih nikmat dari yang tadi. gw lepas eh dia yang mendekat dia cium gw.

“ahh… maksih ini malam yang indah”kata rini.
“Rini… elo mau coba yang liar ngak” kata gw
“apa sih” kata rini sambil raba paha gw.
“loe mau kan… ahh” kata gw… rini raba celana gw n buka pelan pelan resletingnya. Rini raba ****** gw n masukin tangannya ke CD gw. Tanpa paksaan dia mulai nunduk n posisinya melintang. kepalanya nunduk tepat di ****** gw…. n rini mulai cium lembut. gila lagi nyetir gw gemeteran banget…

“uhh … ahhh” gw… dia mulai nocokkin kon gw. di cium…. kulum.. sedot ahhh enak banget. gw usah lembut rambutnya pake tangan kiri.gila ampe merem melek nih. susah banget untuk konsentrasi…

“sayang aku mau air kamu… plsss” sambil memelas n nongok ke gw + tangannya ngocokin kon gw. gw cium bibirnya trus tangan kiri gw nuntun kepalanya ke selangkangan gw lagi. dia mulai lagi ngocokin n… ahhh…. uh loe jago rin gw…. ahh sit ahhh. gw nyampe n uh enak banget. “ahhhhhhh….. eiit” nyaris gw nabrak mobil di depan gw.
“iih… eeh… gimana sih kamu itu ngak konsen ya” kata rini. gw kaget banget.
“eh rini loe muntahin dimana” kata gw.
“enak aja kamu ya, enak kok di buang” kata rini. jalanan mulai lancar mobil gw tancap.
“alit… kita kemana” kata rini “kita ketempat gw” kata gw. 20 menit di jalan gw sampe di tempat yang dituju. gw bel gerbang di buka; 2 orang ngampirin gw satu bukain gerbang satu lagi ambil alih mobilnya utk di parkir. gw ajak Rini ke dalam; dia kaget banget bangetn nanya… “alit ini tempat sapa” tanya Rini. gw senyum trus ngajak dia ke belakang. Rini senyum ngelihat semuanya. di belakang ada taman penuh bunga n ada lampu taman. tapi ada spot yang paling bagus yaitu kursi panjang yang ada kasurnya n bantal. gw rangkul rini n cium dia. Gw duduk di kursi. posisi kepala gw sekarang sejajar pinggulnya. tangan gw yang kiri mulai bergerilya yang lain remas pantatnya lembut.

“rin… km cantik, aku mau kamu skrg” kata gw. dia diam aja. trus gw raba paha nya. gaunnya mulai terangkat sedikit demi sedikit. pahanya mulai terlihat… putih tanpa cacat. gw cium… rini mulai terangsang. gw angkat lagi sampai CD rini terlihat disana gw cium vaginanya dari luar cd..

“ahhh… suttt” rini menikmatinya. gw cium sebentar trus gw naik tapi gaunnya tetap terangkat. gw keatas, gw cium bibirnya lembut. gaunnya turun. tangan kiri gw melingkar di pinggan kami berciuman saling mengulum. sesekali terdengar desahan dari rini. tangan kanan gw meraba2 liar sampai gw temukan lilitan di lehernya yang mengikat gaunnya. gw buka; gaun rini mulai turun. saling memandang kami sedikit berjauhan. rini tersipu malu sambil memegang gaunnya yang terlepas namun masih terikat oleh kain yang berfungsi sebagai ikatan di pinggang.

aku mulai mencium lehernya yang putih bersih n harum banget. rini mendesah hebat. tangan rini terkulai lemas disisinya. pasrah tanpa perxxxxxxxxxanan. gw turun ke aran susu kecil seukuran genggaman tangan, gw remas dengan tangan kiri gw; cium susunya dengan lembut di sisi luar satu kecupan sederhana n cium putingnya n gigitan lembut. Tiba-tiba..”ahhh… ahhhhhh” rini mendesah panjang n dia bilang gw keluar” sayanggg.. aku keluar”… aku diam sesaat lalu tangan ku mengangkat gaunnya, menunduk n
gw lihat lingerie nya basah. gw memandang kearahnya n dia tersenyum n tersipu malu. lalu gw melepaskan cd nya n gw duduk di kursi panjang itu. gw angkat kaki kanannya trus gw raba pake jari tapi Rini menghentikannya.

“sayang jangan pake itu, aku ngak berani” kata Rini. gw iya kan. lalu gw cium dengan lembut. lidah gw bermain … gila harum banget. in pertama kalinya gw nemu yang harum kayak gini. gw kulum…. cium… isep n sedot,

…”ahhhh.uuuhhhhh..ahhhhhhhhhh…” bess cairan keluar dari vaginanya. gw sambut gw isep habis. lalu gw bediri. Rini berdiri dengan gaun masih terpasang namun sudah tak beraturan. Rini menggit bibirnya n menunduk saat gw pandang. lalu….

“rin, sini… ikut gw” kata gw. gw terus ajak dia ke gazebo deket taman. disana ada bantat tempat biasa gw duduk tempatnya lebar cukup utk ngapain aja. lalu… “rini, sayang kamu rebahan ya” kata gw. Rini merebahkan dirinya lalu kedua kakinya gw tuntun hingga posisi mengangkang. Gaunnya yang masih terpakai itu tersingkap n gw raba pahanya; gw cium pahanya. turun cium vaginanya trus gw lepasin resleting celana gw. ****** gw udah konak berat. lalu…

“Alit, aku takut … kalo kalo” kata rini. lalu aku menenangkannya dengan mengatakan ” sayang ngak apa2 kok aku janji aku ngak akan kasar n aku akan buang diluar” kata gw. aku mulai permainnannya. posisiku berdiri kontolku sejajar dengan vaginanya dalam hati “I love my gazebo”.

gw coba masukin ke vagina rini yang sudah basah ntah mengapa. yang jelas basah. gw masukin susah banget; gw pikir nih cewe sempit banget. gw coba terus ngak peduli lagi ama rini yang mendesah desah sampai2 tubuhnya agak terangkat sediri. tangan rini sampae ngremes tangan ku kuat banget…. lalu blesss… masuk n.

Rini ” ahhhhhhhhhhhh………….” gw cium bibirnya lalu berdiri tegak. gw pompa tuh vagina yang luar biasa sempit mungil n indah. pelan.. pelan. lalu gw naikin kecepatannya. gw genjot. ” ahhh….uhh…. ennnnak say, terusin …mmmmmm…. jangan terlaluuuuuuuu……….” tiba tiba ubuh rini menggelinjang hebat susunya menegang hebat. saat itu gw diam tapi gw sodok sekuat2nya. tangan rini remas tangan gw kuat banget. lalu gw pompa dengan posisi yang sama. gw cepetin lamabatin ; jelas tubuh Rini kini bisa menikmatinya.

setelah beberapa saat … lalu gw mengangkat kaki kanannya ke bahu gw n gw pompa…. Rini menjerit kesakitan ……
“ahhh…ehhh….ahhh…. ampun…ampun… jang…ngan…. ahhhhh” jerit rini. hampir 3 menit kami dalam posisi itu… tiba2 Rini menjerik kerah dan melenguh kenikmatan yang mendalam. “ahhhhhhhhhhhhh…..akuuuu…………uhhhhhhh hhhh hhhahhhhhh” rini. lalu aku “ahhhhhhhhhhhhh……”. semuanya tersembur didalam. ****** gw terasa diremas hebat hingga tanpa bisa untuk mencabutnya dari sdalam vagina rini. gw menindih rini. terkulai lemas. lalu gw cium bibir n pipi rini. kami benar2 lemas.

lalu gw berdiri n gw ngak percaya apa yang gw lihat …. darah yang tercampur di bibir vagina rini.”Alit, aku sayang kamu… sebenernya aku belum pernah…”kata rini lalu aku mencium keningnya gw ngak nyangka apa yang gw dapet. cewe cantik 25 tahun 2 tahun lebih muda dari gw. masih perawan n gw yang metik. gila… luar biasa. 1 jam 30 menit malam itu kami lalui tanpa gaya aneh2 hanya mengalir begitu saja di selimuti dinginnya malam.

semuanya … sorry banget detainya ngak bisa gw terusin. soalnya saat ini Rini disisi gw n dia mulai agresif lagi.

Powered By Blogger

Free chat widget @ ShoutMix